Selasa, 21 September 2021

LKK NASIONAL DAN KENANGAN SWC 25 TAHUNAN LALU DI SIBOLGA-TAPTENG

        Bermula dari chatting chat WhatsApp dengan adinda Dhya ketua Kohati HMI Cabang Persiapan Sibolga Tapteng, yg menanyakan apakah aku bersedia menjadi salah seorang pemateri atau narasumber di acara LKK Nasional yang akan di laksanakan pada bulan September di Pandan ibukota Tapanuli Tengah. Chat berlanjut dan membuahkan hasil aku bersama dua presidium Forhati Sumut Yenny Siregar dan Serasi Malem Sitepu menjadi bagian dari acara adik adik yaitu LKK (Latihan Khusus KOHATI)

        Menginjakkan kaki kembali ke Tapteng dalam rangka berkaitan dengan HMI/KOHATI mengingatkan aku pada peristiwa sekitat 25 tahun yang lalu yaitu Student Work Camp (SWC). Kegiatan yang dilaksanakan oleh anak anak HMI dalam rangka aplikasi ilmu dimasyarakat. Saat itu aku datang sebagai peserta dari bagian tim medis sehingga tidak ditempatkan dirumah masyarakat seperti peserta yang lain. Cerita tentan SWC ini telah kutulis dibuku antologi jilid2 dari seri DRPS, kisah anak anak alimbas  yang sudah launching tepat tadi sore tgl 21 September 2021.

         Aku kembali menapakkan kakiku menyentuh pasir putih disepanjang pantai Pandan sambil menunggu sunset yang sangat indah tepat pada hari Minggu tanggal 20 September 2021. Melintas semua kenangan indah 25 tahun lalu, aku tersenyum senyum sendiri membayangkannya. kunikmati sejuknya semilir angin, suara deburan ombak yang terdengar sangat indah, anak anak mandi dilaut dengan penuh kebahagian dan ibu ibu yang tak kalah seru ikut bermain disepanjang pantai. Kulihat banyak remaja yang berkelompok dipinggir pantai bersenda gurau sambil minum kelapa muda. Sore yang indah dan menawan.


Sore di Pandan


Sunset



        Tugas menjadi pemateri di LKK Nasional yang diselenggarakan oleh KOHATI HMI Cabang Persiapan Sibolga-Tapteng telah rampung siang tadi, sehingga aku punya banyak waktu untuk menikmati pantai Pandan ini. Sendirian, aku duduk menunggu sunset, menghirup udara sore menjelang maghrib , menikmati pemandangan yang jarang jarang bisa kunikmati. Dua rekan presidium Yennny dan Asih sedang berada di Forum LKK melaksanakn tugas mereka.


Bersama peserta LKK Nasional 

        Tak lama, teleponku berdering, ternyata seorang sahabat yang bertugas di kota Sibolga, beliau dan istri mengundangku dan yenny serta Asih untuk makan malam bersama mereka disebuah restauran seafood yang terkenal disana. Alhamdulillah ya Allah... dimana mana ada saja orang baik yang selalu menjaga silaturrahmi. 

Bersama adik adik Majelis Daerah Forhati Sibolga-Tapteng




        Lepas maghrib, kami bersiap untuk menerima undangan makan malam, bertemu dengan sahabatku Dhani Erwin dan istrinya, bercerita tentang berbagai peristiwa terutama tentang pandemi, dan terkhusus yang membuat kami tertawa adalah cerita tentang anak anak kami masing masing yang ternyata hampir sama tabiatnya selama pandemi, yaitu mager alias malas gerak. Curhat tentang anak adalah bagian terseru dalam cerita kami, dan kami sama sama setuju bahwa anak jaman sekarang sangat berbeda jauh dengan anak anak dimasa kami dulu. Namun apapun itu semua kondisi dan situasi tetap harus dijalani dengan rasa syukur pada Ilahi Rabbi sang Penguasa Jagad Raya.



        Tak terasa malam kian larut dan kami harus berpisah, sebab besok kami akan melakukan perjalanan ke Barus, mencoba menapaki tangga seribu menuju makam Syech Machmud, sebuah lokasi yang disinyalir adalah tempat pertama masuknya Islam ke Sumatera. Cerita tentang perjalanan ke Barus akan ditulis berikutnya. 


MENCUCI SUNGAI ALA RELAWAN ECO ENZYME

         Kalau mendengar kata mencuci sungai tentu kita akan merasa sedikit aneh ya, begitu juga denganku ketika pertama kali mendengarnya ...