Selasa, 12 Oktober 2021

MENCUCI SUNGAI ALA RELAWAN ECO ENZYME

         Kalau mendengar kata mencuci sungai tentu kita akan merasa sedikit aneh ya, begitu juga denganku ketika pertama kali mendengarnya dari banganda guru... eh guru kok dipakai bangda? ho oh emang 😄. di komunitas kami yang disebut Relawan Eco Enzyme, kami terbiasa memanggil kepada yang berjenis kelamin lelaki dengan bangda serta yang berjenis kelamin perempuan sebagai bunda, hihihi kok giliran perempuan jadi tua panggilannya? entahlah mungkin guru kami sok muda maka maunya dipanggil bangda, uuupss .

        Mencuci sungai pertama kali kulakukan tahun 2019, bukan sungai yang airnya bersih lho tapi justru sasaran kita adalah sungai-sungai yang airnya kotor dan bau. Istilah di kota Medan menyebutkan sungai ditengah kota ini adalah parbus alias parit busuk. Sangkin kotornya sampai disebut busuk, karena biasanya air yang mengalir berwarna hitam dan mengeluarkan aroma busuk ditambah lagi dengan sampah-sampah yang dibuang masyarakat. Melihatnya seram sekali 😩😫😵

        Mencuci sungai ala Relawan Eco Enzyme ini adalah dengan menuangkan Eco Enzyme murni ke sungai atau parit busuk , Eco Enzyme yang berisi bakteri baik pasive ini ketika bercampur dengan air akan membelah diri menjadi miliaran sel dan aktif kembali, yang akan mengembalikan biota air kembali sehingga sungai akan kembali bersih dan memberikan kondisi sungai yang lebih baik dan sehat. Jadi sudah faham ya, kenapa kita capek-capek buat EE malah dibuang ke sungai atau parit yang kotor. Tetapi dibanding usaha kami yang terus mencoba mencuci sungai dengan perilaku kita yang tidak perduli dan terus menciptakan kerusakan air pasti sangat tidak sebanding. Lalu apakah kami akan berputus asa? tentu tidak, bekerja sepenuh hati untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan adalah motto kami.💪💪

        BTW, kira-kira tahukah kamu kenapa saluran pembuangan/parit/got disekitar rumah  kita bau dan hitam? Bukan hanya karena kita membuang sampah atau air kotor kita saja yang membuatnya seperti itu, tapi tahukah kamu ketika kita memakai shampoo, sabun, deterjen dan produk produk yang mengandung alkyl benzona sulfate maka akan menyebabkan biota pada air mati dan menyebabkan sungai/got/parit kita bau dan hitam, air kotor ini akan mengalir kelaut dan menyebabkan laut kita juga rusak. Belum lagi efek pada enceng gondok yang akan sangat pesat pertumbuhannya sehingga menyebabkan permukaan air tertutup dan tidak mendapat O2 yang cukup sehigga biota air semakin cepat mati.

        tentunya kita tidak ingin ikut andil menjadi salah seorang tersangka pencemar lingkungankan? 😃 makanya mulai sekarang ayo ikutan membuat eco enzyme bersama kami Relawan Eco Enzyme Indonesia, kita cuci sungai sungai yang telah tercemar dengan menuang eco enzyme, kita kurangi pemakaian bahan yang mengandung alkyl benzona sulfate dirumah kita dan kita kelola dan olah sampah kita, dengan semangat zero waste. Lalu apa dan bagaimana sih cara membuat Eco Enzym itu? Dipostingan selanjutnya saya tuliskan yaaaaa

Salam Eco Enzym 










Jumat, 01 Oktober 2021

ZIARAH KE MAKAM PAPAN TINGGI DI BARUS TAPANULI TENGAH

     Debur ombak dipantai Pandan benar-benar telah menyenyakkan tidurku malam itu, aku yang terbiasa bangun sebelum jam 05.00 pagi, kali ini benar - benar terlena sehingga bangun setelah Asih menyalakan lampu kamar dan Azan subuh telah lewat beberapa menit. Rencana kami akan berangkat lepas sholat subuh tinggallah rencana, nyatanya kami meninggalkan kamar ketika waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB. 😀 Belum lagi, perut yang menuntut minta diisi, aku mengatakan pada supir untuk mencari sarapan dulu kearah kota, alhasil kamipun baru ready untuk berangkat jam 09.00 WIB.

    Supir menanyakan kepada kami kearah mana kendaraan diarahkan, aku dan Yenny dengan sangat yakin menunjuk arah kembali ke belakang menjauhi kota. Setelah lebih kurang 15 menit berjalan aku memasang google map, namun arah yang dituju sepertinya tidak sesuai, karena ragu kamipun bertanya kepada penduduk, dan ternyataaaa.... kami salah arah   ðŸ˜†      omaigot.... 

    Meski diawali salah jalan, semangat tetap terjaga untuk tetap melanjutkan perjalanan menuju Barus, sambil menertawakan keyakinan kami tadi pagi. Pemandangan dijalan membuat mata sejuk, juga dibeberapa tempat banyak penduduk yang sedang berjualan semacam langsat, tapi aku ingat dulu ompungku bilang itu laccat ai ai , kukatakan nanti pulangnya kita beli ya.


laccat ai ai

    Kurang lebih 1,5 jam kamipun sampai di Barus, langsung ke desa Penanggahan tempat makam berada dan memarkirkan kendaraan. Terlihat lengang tidak terlalu banyak orang diarel parkir dan deretan warung jualan minuman dan camilan. Kamipun membeli air mineral, untunglah adik supir bersedia membawa semua perbekalan tempur kami menuju tangga 1000 sehingga kami hanya membawa tas kecil masing masing saja. Cerita mengenai tangga menuju makam disebut tangga seribu karena konon katanya jumlah anak tangga semua hingga sampai areal pemakaman adalah 1.000 anak tangga. Namun setiap kali ada orang yang menghitung jumlah anak tangga tersebut hasilnya berbeda beda, ada yang mengatakan 830, ada yg mengatakan 850 dan lain sebagainya. Tentu saja aku tak ingin ikut-ikutan menghitung anak tangga tersebut, aku hanya fokus menjaga nafasku sambil berzikir dan berdoa agar aku dan teman-teman berhasil sampai dipuncak.

    Seperti dugaanku, perjalanan menapaki tangga tidaklah mudah, diawal masih tegar dan segar, namun baru saja melewati 2 kelompok anak tangga nafas sudah terasa sesak dan jantung berpacu dengan sangat cepat. Kutarik nafas kuat-kuat, kuhembuskan kembali sambil terus berzikir dan keringat mulai mengalir dengan deras. Besi yang berada ditengah tangga adalah penolong untu menarik badan yang kian terasa berat.  Untunglah ada beberapa tempat peristirahatan sepanjang mendaki menuju puncak. Pemandangan yang sangat indah benar-benar menyegarkan mata, antara langit dan laut tak nampak batasnya dilihat dari ketinggian, hamparan pemandangan ini sangat membantu menjaga semangat untuk tetap terus melanjutkan perjalanan yang kian berat ini 😌


view dari tangga 1.000





    Diperjalanan kami berpapasan dengan serombongan keluarga yang ternyata berasal dari Kota Cane Aceh, sambil beristirahat kami mengobrol dengan mereka , usia mereka tak lagi muda tapi dengan santai mereka sedang menuju turun dan mengatakan hanya tinggal 5 menit lagi sampai, mendengar itu semangatku kembali penuh dan kupacu langkahku ditangga. Tapi ternyata lima menit versi mereka tidak sama dengan versi kami, tak kurang 15 menit kemudian barulah aku bisa melihat pagar yang mengelilingi makam. Entah karena kami yang lambat merayap atau memang rombongan yang dari Kota Cane itu cepat, aku tak terlalu memusingkannya, pokoknya sampai... yeayy 😃






    Gemuruh didada sangat terasa antara bahagia akhirnya sampai dengan detak jantung yang sangat terasa berdetak dengan kencang karena beban mendaki yang tidak biasa kulakukan. Kompleks pemakaman itu hanya berisi dua makam, yang satu sangat panjang, menurut taksiranku sekitar 8-9 meter dan yang satu lagi pendek tapi lebar. Ternyata makam yang panjang itulah makam Syech Mahmud Barus, seorang yang berasal dari Hadramaut Yaman. Menurut penduduk yang kami temui sebelum mendaki anak tangga makam ini sudah ada sejak tahun 44 H, tertulis di nisan yang tingginya sekitar 1,2 meter dengan huruf Dal-Mim. 


Kompleks Makam Papan Tinggi di Barus, Sumatera Utara
Foto: Gusti Ramadhan/detikcom


    Perjalanan pulang terasa lebih mudah dan ringan, senyum dan tawa mengiringi langkah menapaki tangga turun, perutpun terasa mulai keroncongan. Waktu yang terbatas benar-benar membatasi langkah kami karena harus segera kembali ke Pandan untuk bersilaturrahmi dengan adik adik Majlis Daerah Forhati Sibolga-Tapteng. Hanya rasa syukur yang bisa kuucapkan bahwa pada suatu masa di tahun awal awal hijriyah ada orang Islam yang menjejakkan kakinya di Nusantara dan menyebarkan Islam agama rahmatan lil alamin.




Selasa, 21 September 2021

LKK NASIONAL DAN KENANGAN SWC 25 TAHUNAN LALU DI SIBOLGA-TAPTENG

        Bermula dari chatting chat WhatsApp dengan adinda Dhya ketua Kohati HMI Cabang Persiapan Sibolga Tapteng, yg menanyakan apakah aku bersedia menjadi salah seorang pemateri atau narasumber di acara LKK Nasional yang akan di laksanakan pada bulan September di Pandan ibukota Tapanuli Tengah. Chat berlanjut dan membuahkan hasil aku bersama dua presidium Forhati Sumut Yenny Siregar dan Serasi Malem Sitepu menjadi bagian dari acara adik adik yaitu LKK (Latihan Khusus KOHATI)

        Menginjakkan kaki kembali ke Tapteng dalam rangka berkaitan dengan HMI/KOHATI mengingatkan aku pada peristiwa sekitat 25 tahun yang lalu yaitu Student Work Camp (SWC). Kegiatan yang dilaksanakan oleh anak anak HMI dalam rangka aplikasi ilmu dimasyarakat. Saat itu aku datang sebagai peserta dari bagian tim medis sehingga tidak ditempatkan dirumah masyarakat seperti peserta yang lain. Cerita tentan SWC ini telah kutulis dibuku antologi jilid2 dari seri DRPS, kisah anak anak alimbas  yang sudah launching tepat tadi sore tgl 21 September 2021.

         Aku kembali menapakkan kakiku menyentuh pasir putih disepanjang pantai Pandan sambil menunggu sunset yang sangat indah tepat pada hari Minggu tanggal 20 September 2021. Melintas semua kenangan indah 25 tahun lalu, aku tersenyum senyum sendiri membayangkannya. kunikmati sejuknya semilir angin, suara deburan ombak yang terdengar sangat indah, anak anak mandi dilaut dengan penuh kebahagian dan ibu ibu yang tak kalah seru ikut bermain disepanjang pantai. Kulihat banyak remaja yang berkelompok dipinggir pantai bersenda gurau sambil minum kelapa muda. Sore yang indah dan menawan.


Sore di Pandan


Sunset



        Tugas menjadi pemateri di LKK Nasional yang diselenggarakan oleh KOHATI HMI Cabang Persiapan Sibolga-Tapteng telah rampung siang tadi, sehingga aku punya banyak waktu untuk menikmati pantai Pandan ini. Sendirian, aku duduk menunggu sunset, menghirup udara sore menjelang maghrib , menikmati pemandangan yang jarang jarang bisa kunikmati. Dua rekan presidium Yennny dan Asih sedang berada di Forum LKK melaksanakn tugas mereka.


Bersama peserta LKK Nasional 

        Tak lama, teleponku berdering, ternyata seorang sahabat yang bertugas di kota Sibolga, beliau dan istri mengundangku dan yenny serta Asih untuk makan malam bersama mereka disebuah restauran seafood yang terkenal disana. Alhamdulillah ya Allah... dimana mana ada saja orang baik yang selalu menjaga silaturrahmi. 

Bersama adik adik Majelis Daerah Forhati Sibolga-Tapteng




        Lepas maghrib, kami bersiap untuk menerima undangan makan malam, bertemu dengan sahabatku Dhani Erwin dan istrinya, bercerita tentang berbagai peristiwa terutama tentang pandemi, dan terkhusus yang membuat kami tertawa adalah cerita tentang anak anak kami masing masing yang ternyata hampir sama tabiatnya selama pandemi, yaitu mager alias malas gerak. Curhat tentang anak adalah bagian terseru dalam cerita kami, dan kami sama sama setuju bahwa anak jaman sekarang sangat berbeda jauh dengan anak anak dimasa kami dulu. Namun apapun itu semua kondisi dan situasi tetap harus dijalani dengan rasa syukur pada Ilahi Rabbi sang Penguasa Jagad Raya.



        Tak terasa malam kian larut dan kami harus berpisah, sebab besok kami akan melakukan perjalanan ke Barus, mencoba menapaki tangga seribu menuju makam Syech Machmud, sebuah lokasi yang disinyalir adalah tempat pertama masuknya Islam ke Sumatera. Cerita tentang perjalanan ke Barus akan ditulis berikutnya. 


MENCUCI SUNGAI ALA RELAWAN ECO ENZYME

         Kalau mendengar kata mencuci sungai tentu kita akan merasa sedikit aneh ya, begitu juga denganku ketika pertama kali mendengarnya ...