Debur ombak dipantai Pandan benar-benar telah menyenyakkan tidurku malam itu, aku yang terbiasa bangun sebelum jam 05.00 pagi, kali ini benar - benar terlena sehingga bangun setelah Asih menyalakan lampu kamar dan Azan subuh telah lewat beberapa menit. Rencana kami akan berangkat lepas sholat subuh tinggallah rencana, nyatanya kami meninggalkan kamar ketika waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB. 😀 Belum lagi, perut yang menuntut minta diisi, aku mengatakan pada supir untuk mencari sarapan dulu kearah kota, alhasil kamipun baru ready untuk berangkat jam 09.00 WIB.
Supir menanyakan kepada kami kearah mana kendaraan diarahkan, aku dan Yenny dengan sangat yakin menunjuk arah kembali ke belakang menjauhi kota. Setelah lebih kurang 15 menit berjalan aku memasang google map, namun arah yang dituju sepertinya tidak sesuai, karena ragu kamipun bertanya kepada penduduk, dan ternyataaaa.... kami salah arah 😆 omaigot....
Meski diawali salah jalan, semangat tetap terjaga untuk tetap melanjutkan perjalanan menuju Barus, sambil menertawakan keyakinan kami tadi pagi. Pemandangan dijalan membuat mata sejuk, juga dibeberapa tempat banyak penduduk yang sedang berjualan semacam langsat, tapi aku ingat dulu ompungku bilang itu laccat ai ai , kukatakan nanti pulangnya kita beli ya.
![]() |
| laccat ai ai |
Kurang lebih 1,5 jam kamipun sampai di Barus, langsung ke desa Penanggahan tempat makam berada dan memarkirkan kendaraan. Terlihat lengang tidak terlalu banyak orang diarel parkir dan deretan warung jualan minuman dan camilan. Kamipun membeli air mineral, untunglah adik supir bersedia membawa semua perbekalan tempur kami menuju tangga 1000 sehingga kami hanya membawa tas kecil masing masing saja. Cerita mengenai tangga menuju makam disebut tangga seribu karena konon katanya jumlah anak tangga semua hingga sampai areal pemakaman adalah 1.000 anak tangga. Namun setiap kali ada orang yang menghitung jumlah anak tangga tersebut hasilnya berbeda beda, ada yang mengatakan 830, ada yg mengatakan 850 dan lain sebagainya. Tentu saja aku tak ingin ikut-ikutan menghitung anak tangga tersebut, aku hanya fokus menjaga nafasku sambil berzikir dan berdoa agar aku dan teman-teman berhasil sampai dipuncak.
Seperti dugaanku, perjalanan menapaki tangga tidaklah mudah, diawal masih tegar dan segar, namun baru saja melewati 2 kelompok anak tangga nafas sudah terasa sesak dan jantung berpacu dengan sangat cepat. Kutarik nafas kuat-kuat, kuhembuskan kembali sambil terus berzikir dan keringat mulai mengalir dengan deras. Besi yang berada ditengah tangga adalah penolong untu menarik badan yang kian terasa berat. Untunglah ada beberapa tempat peristirahatan sepanjang mendaki menuju puncak. Pemandangan yang sangat indah benar-benar menyegarkan mata, antara langit dan laut tak nampak batasnya dilihat dari ketinggian, hamparan pemandangan ini sangat membantu menjaga semangat untuk tetap terus melanjutkan perjalanan yang kian berat ini 😌
Diperjalanan kami berpapasan dengan serombongan keluarga yang ternyata berasal dari Kota Cane Aceh, sambil beristirahat kami mengobrol dengan mereka , usia mereka tak lagi muda tapi dengan santai mereka sedang menuju turun dan mengatakan hanya tinggal 5 menit lagi sampai, mendengar itu semangatku kembali penuh dan kupacu langkahku ditangga. Tapi ternyata lima menit versi mereka tidak sama dengan versi kami, tak kurang 15 menit kemudian barulah aku bisa melihat pagar yang mengelilingi makam. Entah karena kami yang lambat merayap atau memang rombongan yang dari Kota Cane itu cepat, aku tak terlalu memusingkannya, pokoknya sampai... yeayy 😃
Gemuruh didada sangat terasa antara bahagia akhirnya sampai dengan detak jantung yang sangat terasa berdetak dengan kencang karena beban mendaki yang tidak biasa kulakukan. Kompleks pemakaman itu hanya berisi dua makam, yang satu sangat panjang, menurut taksiranku sekitar 8-9 meter dan yang satu lagi pendek tapi lebar. Ternyata makam yang panjang itulah makam Syech Mahmud Barus, seorang yang berasal dari Hadramaut Yaman. Menurut penduduk yang kami temui sebelum mendaki anak tangga makam ini sudah ada sejak tahun 44 H, tertulis di nisan yang tingginya sekitar 1,2 meter dengan huruf Dal-Mim.

Kompleks Makam Papan Tinggi di Barus, Sumatera Utara
Foto: Gusti Ramadhan/detikcom
Perjalanan pulang terasa lebih mudah dan ringan, senyum dan tawa mengiringi langkah menapaki tangga turun, perutpun terasa mulai keroncongan. Waktu yang terbatas benar-benar membatasi langkah kami karena harus segera kembali ke Pandan untuk bersilaturrahmi dengan adik adik Majlis Daerah Forhati Sibolga-Tapteng. Hanya rasa syukur yang bisa kuucapkan bahwa pada suatu masa di tahun awal awal hijriyah ada orang Islam yang menjejakkan kakinya di Nusantara dan menyebarkan Islam agama rahmatan lil alamin.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar