Pada suatu hari,
sedikit terkejut dan sedikit merasa lucu tapi lebih banyak merasa sedih ketika
akhirnya saya mendapatkan secuil bukti bahwa literasi belum menjadi budaya di
Indonesia. Cerita bermula dari rasa kepedulian saya pada seorang teman yang
merespon sebuah kejadian dengan membuat status sebuah foto dan caption yang
menurut saya sudah melampaui batas kewajaran, rasa perduli tersebut saya
ungkapkan dengan mengingatkan di wall FB status teman tersebut. Teman tersebut
sama sekali tidak bereaksi terhadap postingan saya di statusnya. Tapi tiba tiba
ada seorang (SG) yang membalas postingan saya dengan mempertanyakan pilihan
saya kepada 2 capres yang sedang bertarung mendapatkan dukungan suara dari
masyarakat Indonesia saat ini. Ya memang
saat ini adalah saat yang sangat sensitive urusan dukung mendukung calon
presiden dan wakil presiden, semua postingan akan dianggap membela calonnya masing
masing, sebuah komentar dicurigai akan menyerang kubu lawan, bahkan sebuah fotopun
akan diinterpretasi mendukung atau mengolok olok calon tertentu. Sangat terasa
ketegangan itu, dan hampir tidak terasakan kegembiraan berdemokrasi.
Kembali
kecerita tadi, saya menjawab bahwa tidak ada hubungan dengan copras capres,
saya hanya perduli pada teman saya karena saya tahu dia orang baik, lalu saya katakana
bahwa saya juga tidak punya kepentingan pada SG yg mempertanyakan pilihan saya
pada capres. Saya fikir persoalan selesai, bbrapa jam kemudian ketika saya
membuka medsos lagi ternyata ada notifikasi lagi dari status teman tersebut,
ketika saya buka sungguh membuat saya tertawa sedih, isinya adalah sebuah video
yg saya unggah berisi pidato yg kebetulan adalah cawapres sebuah kubu, padahal
video itu berisi pidato beberapa orang pelaku ekonomi, pegiat ekonomi juga orang orang yang perduli pada enterprneurship dan mereka saat ini berada di
kedua kubu sesuai dengan pilihannya. Saya menarik kesimpulan bahwa si SG tidak
melihat video itu utuh, hanya melihat diawal kebetulan salah seorang cawapres
langsung saja menuduh saya punya kepentingan tidak seperti yang saya katakan padanya.
Postingan
kedua, dan ini yang membuat saya lebih geli dan tertawa lebih keras tapi tetap
merasa lebih sedih dari postingan video tadi, mengapa? Karena ternyata SG
memposting foto saya sedang bergaya menaiki sebuah kendaraan roda dua yang
disulap menjadi perpustakaan bergerak dan tangan kanan saya teracung membentuk
letter L . Dan dengan sangat yakin SG mempertanyakan bahwa saya tidak punya
kepentingan? Sambil tak lupa menyelipkan emoticon tertawa mengejek. Sungguh saya
speechless, alias kehilangan kata kata meski terngiang sebuah kata yang sering
diucapkan seorang filosof yang sedang viral… d***u (uups)😀😀
Rasa
sedih tadi berubah menjadi rasa kasihan, batin saya mengatakan SG ini korban
situasi yang carut marut, SG adalah contoh anak muda yang sangat miskin
literasi, SG ini adalah korban minimnya kepedulian masyarakat pada budaya
literasi. Sayapun menjelaskan kisah video dan arti letter L tersebut, bahwa
foto tersebut dibuat jauh sebelum copras capres, bahwa saya adalah pegiat
literasi, bahwa organisasi yang saya pimpin mempunyai program literasi, bahwa simbol
letter L itu adalah simbol Literasi bukan simbol salah satu kubu dan
menganjurkan untuk memperkuat literasinya. Sayang jawabannya justru membuat
saya semakin sedih, SG bertanya kenapa tidak sekalian katakan saja bahwa itu
juga adalah simbol colok dubur? (maaf, saya tidak menyamarkan istilah yang
dikatakan SG). Saya kaget lagi sambil beristighfar… akhirnya saya mengucapkan permohonan
maaf bila ada penjelasan saya yang telah menyinggung perasaan SG dan mengatakan
sebaiknya kita tidak perlu saling
menyakiti hanya untuk sebuah pilpres. Barulah akhirnya SG memberikan Like,
tanpa kata maaf. Sampai tulisan ini dibuat, belum ada perubahan pada status
teman saya tersebut.
Miris?
Iya, sedih? Tentu, apakah saya marah? Iya tapi bukan marah pada SG, saya marah
pada keadaan yang sebenarnya tidak harus seperti ini. Saya marah pada situasi
buruk perpolitikan yang menurut saya sangat tidak sehat. Marah pada hoaks yang
menumpulkan kreativitas berfikir masyarakat, marah pada ketidakberdayaan
sebahagian besar masyarakat yang dicekoki dengan informasi yang tidak valid,
marah dan marah sampai akhirnya saya menyadari harus melakukan sesuatu, suatu
tindakan yang mencerdaskan, suatu tindakan yang minimal bisa mencerahkan.
Perkuat Literasi itulah jawabnya. Semoga...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar