Sabtu, 02 Maret 2019

SALAM LITERASI




Pada suatu hari, sedikit terkejut dan sedikit merasa lucu tapi lebih banyak merasa sedih ketika akhirnya saya mendapatkan secuil bukti bahwa literasi belum menjadi budaya di Indonesia. Cerita bermula dari rasa kepedulian saya pada seorang teman yang merespon sebuah kejadian dengan membuat status sebuah foto dan caption yang menurut saya sudah melampaui batas kewajaran, rasa perduli tersebut saya ungkapkan dengan mengingatkan di wall FB status teman tersebut. Teman tersebut sama sekali tidak bereaksi terhadap postingan saya di statusnya. Tapi tiba tiba ada seorang (SG) yang membalas postingan saya dengan mempertanyakan pilihan saya kepada 2 capres yang sedang bertarung mendapatkan dukungan suara dari masyarakat Indonesia saat ini.  Ya memang saat ini adalah saat yang sangat sensitive urusan dukung mendukung calon presiden dan wakil presiden, semua postingan akan dianggap membela calonnya masing masing, sebuah komentar dicurigai akan menyerang kubu lawan, bahkan sebuah fotopun akan diinterpretasi mendukung atau mengolok olok calon tertentu. Sangat terasa ketegangan itu, dan hampir tidak terasakan kegembiraan berdemokrasi.
                Kembali kecerita tadi, saya menjawab bahwa tidak ada hubungan dengan copras capres, saya hanya perduli pada teman saya karena saya tahu dia orang baik, lalu saya katakana bahwa saya juga tidak punya kepentingan pada SG yg mempertanyakan pilihan saya pada capres. Saya fikir persoalan selesai, bbrapa jam kemudian ketika saya membuka medsos lagi ternyata ada notifikasi lagi dari status teman tersebut, ketika saya buka sungguh membuat saya tertawa sedih, isinya adalah sebuah video yg saya unggah berisi pidato yg kebetulan adalah cawapres sebuah kubu, padahal video itu berisi pidato beberapa orang pelaku ekonomi, pegiat ekonomi juga orang orang yang perduli pada enterprneurship dan mereka saat ini berada di kedua kubu sesuai dengan pilihannya. Saya menarik kesimpulan bahwa si SG tidak melihat video itu utuh, hanya melihat diawal kebetulan salah seorang cawapres langsung saja menuduh saya punya kepentingan tidak seperti yang saya katakan padanya.
                Postingan kedua, dan ini yang membuat saya lebih geli dan tertawa lebih keras tapi tetap merasa lebih sedih dari postingan video tadi, mengapa? Karena ternyata SG memposting foto saya sedang bergaya menaiki sebuah kendaraan roda dua yang disulap menjadi perpustakaan bergerak dan tangan kanan saya teracung membentuk letter L . Dan dengan sangat yakin SG mempertanyakan bahwa saya tidak punya kepentingan? Sambil tak lupa menyelipkan  emoticon tertawa mengejek. Sungguh saya speechless, alias kehilangan kata kata meski terngiang sebuah kata yang sering diucapkan seorang filosof yang sedang viral… d***u (uups)😀😀



              Rasa sedih tadi berubah menjadi rasa kasihan, batin saya mengatakan SG ini korban situasi yang carut marut, SG adalah contoh anak muda yang sangat miskin literasi, SG ini adalah korban minimnya kepedulian masyarakat pada budaya literasi. Sayapun menjelaskan kisah video dan arti letter L tersebut, bahwa foto tersebut dibuat jauh sebelum copras capres, bahwa saya adalah pegiat literasi, bahwa organisasi yang saya pimpin mempunyai program literasi, bahwa simbol letter L itu adalah simbol Literasi bukan simbol salah satu kubu dan menganjurkan untuk memperkuat literasinya. Sayang jawabannya justru membuat saya semakin sedih, SG bertanya kenapa tidak sekalian katakan saja bahwa itu juga adalah simbol colok dubur? (maaf, saya tidak menyamarkan istilah yang dikatakan SG). Saya kaget lagi sambil beristighfar… akhirnya saya mengucapkan permohonan maaf bila ada penjelasan saya yang telah menyinggung perasaan SG dan mengatakan  sebaiknya kita tidak perlu saling menyakiti hanya untuk sebuah pilpres. Barulah akhirnya SG memberikan Like, tanpa kata maaf. Sampai tulisan ini dibuat, belum ada perubahan pada status teman saya tersebut.
                Miris? Iya, sedih? Tentu, apakah saya marah? Iya tapi bukan marah pada SG, saya marah pada keadaan yang sebenarnya tidak harus seperti ini. Saya marah pada situasi buruk perpolitikan yang menurut saya sangat tidak sehat. Marah pada hoaks yang menumpulkan kreativitas berfikir masyarakat, marah pada ketidakberdayaan sebahagian besar masyarakat yang dicekoki dengan informasi yang tidak valid, marah dan marah sampai akhirnya saya menyadari harus melakukan sesuatu, suatu tindakan yang mencerdaskan, suatu tindakan yang minimal bisa mencerahkan. Perkuat Literasi itulah jawabnya. Semoga...


                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENCUCI SUNGAI ALA RELAWAN ECO ENZYME

         Kalau mendengar kata mencuci sungai tentu kita akan merasa sedikit aneh ya, begitu juga denganku ketika pertama kali mendengarnya ...