Minggu, 10 Maret 2019

TSUNDOKU, SEBUAH SENI BAGI PECINTA BUKU




bec@k@k collection

Pernah melihat seseorang yang rajin membeli atau meminjam  buku? Tentu pernah ya. Pernahkah bertanya padanya apakah semua buku buku tersebut dibacanya? Nah ketika kutanyakan hal itu mulai muncul beberapa jawaban berbeda, ada yang mengatakan tidak semua, hanya baca yg perlu aja, ada yg bilang baru baca setengah lalu beli lagi, baca sedikit belum selesai baca lagi buku yg lain,  ada yang bilang gak sempat tapi niat untuk membacanya ada, kemudian adalagi yang bilang membeli buku saja sudah merupakan kebahagiaan, bacanya belum tahu kapan, 😃😃. Aku sendiri mengalami hal tersebut, Ada tumpukan buku dimejaku yang belum kubaca sama sekali dan ada tumpukan buku yang sudah kubaca sebahagian. Ketika kutanyakan pada beberapa teman terdekat hal yang sama, rata rata mereka juga melakukannya.  Ternyata ada istilah yang digunakan untuk perilaku tersebut yaitu Tsundoku.
                Tsundoku berasal dari  istilah di Jepang, ditemukan di media cetak pada tahun 1879 dan ada kemungkinan besar bahwa istilah ini sudah digunakan lebih lama dari itu. Kata “doku” dapat digunakan sebagai kata kerja yang berarti membaca. “tsun” dalam “tsundoku” berasal dari kata “tsumu” yang berarti menumpuk. Jadi ketika disatukan “tsundoku” secara harfiah berarti tumpukan bacan, atau kita artikan  membeli bahan bacaan dan menumpuknya.
                Ungkapan tsundoku sensei muncul pada teks dari tahun 1879 dari penulis Mori Senzo, menurut Profesor Andrew Gerstle (mengajar teks teks Jepang pra-modern di University of London), ungkapan tersebut mulanya adalah untuk menyindir tentang seorang guru yang memiliki banyak buku tetapi tidak membacanya, nampaknya memang tsundoku digunakan sebagai penghinaan, namun menurut Profesor tersebut kata tersebut tidak membawa stigma apapun di Jepang.
"Even when reading is impossible, the presence of books acquired produces such an ecstasy that the buying of more books than one can read is nothing less than the soul reaching towards infinity." – A. Edward Newton, author, publisher, and collector of 10,000 books.
"Bahkan ketika membaca tidak mungkin, keberadaan buku-buku yang diperoleh menghasilkan ekstasi sedemikian rupa sehingga membeli lebih banyak buku daripada yang dapat dibaca tidak lain adalah jiwa yang mencapai keabadian." - A. Edward Newton, penulis, penerbit, dan kolektor 10.000 buku.
Kutipan diatas sering dipakai sebagai sebuah argumen bagi para tsundoku,
                Skala tsundoku mulai dari hanya satu buku yang belum dibaca hingga penimbunan yang serius, seperti yang dialami seorang yang bernama Frank Rose, yang mengalami tsundoku parah, dia mempunyai 13.000 buku yang belum dibaca.  Untunglah akhirnya beliau menyumbangkan sebahagian besar buku buku tersebut ke perpustakaan setempat yaitu  Arden –Dimick Library dan menurut catatan itu adalah merupakan sumbangan buku terbesar dalam sejarah perpustakaan.
                Sebenarnya apa yang menyebabkan seseorang terlibat tsundoku ini? Ada beberapa sebab yakni:
A.      Tuntutan sosial
Punya akun IG atau FB, tapi tidak pernah mengupload foto sedang beli buku, atau sedang membaca dengan latar belakang rak yang berisi buku itu akan menurunkan popularitas sebagai seorang cendekia atau sebagai orang tua yang perduli pada literasi. Karena ternyata kehidupan social kita hari ini sudah berada di akun akun social.
B.      Lapar Mata
Pokoknya kalau sudah ke toko buku meski yang direncanakan beli hanya buku soal soal tapi tetaaap saja kaki bergerak kearah novel,komik dll, sambil bilang nanti siap ujian buku ini akan kubaca, giliran liburan datang, eh malah travelling kemana mana.
C.      Membeli buku yang sebenarnya tidak dibutuhkan
Biasanya gara gara ikut tren, ada yang mengatakan  buku ini  bagus, lalu kitapun penasaran dan langsung beli, meskipun sebenarnya tidak terlalu kepingin. Akibatnya buku hanya dibaca sekilas lalu ditumpuk. Atau karena ada discount akhir tahun atau ulang tahun toko buku, nah trolipun mulai beraksi dan penumpukan terjadi lagi.
D.      Isi buku tak sesuai harapan
Beli buku tanpa baca review, beli buku tanpa baca contoh buku, biasanya ditoko buku yang tidak menyediakan sampel, akhirnya harapan tak sesuai kenyataan, dan bukupun ditumpuk lagi.
Adakah solusi untuk keluar dari tsundoku ini? Tentu saja ada, terpulang kembali kepada niat , dan membuat suatu tujuan dan motivasi bagi diri sendiri. Contoh solusinya :
1.       Menetapkan tujuan membeli buku sebelum membelinya.
2.       Memastikan bahwa buku yang akan dibeli memang dibutuhkan
3.       Biasakan membaca reviuw atau synopsis buku
4.       Tetapkan sebuah waktu khusus dalam 24 jam kehidupan untuk membaca, misalnya 1 jam setelah sholat Subuh atau 1 jam sebelum tidur.
5.       Mulailah menulis, karena menulis sangat memerlukan bahan bacaan.
6.       Konsisten.
Jika itu semua tak cukup, mulailah mengemas buku buku tersebut kedalam sebuah karton box, dan bagikan pada perpustakaan atau taman bacaaan yang anda tahu, kalau anda tak tahu dimana taman bacaan tersebut, hubungi diriku karena aku tahu banyak sekali taman bacaan yang sangat membutuhkannya.
Jika ada buku yang belum dibuka dari plastiknya atau bahkan yang sudah, menjual kembali juga menjadi sebuah pilihan, hasil penjualan buku tersebut bisa untuk membeli buku  lagi….
Selamat mencoba.🌹🌹

  
*https://www.bbc.com/news/world-44981013


2 komentar:

  1. sayang sekali beli buku gak dibaca

    BalasHapus
  2. Rupanya ada ya istilahnya untuk yg membeli buku tapi tidak sempat mbaca nya

    BalasHapus

MENCUCI SUNGAI ALA RELAWAN ECO ENZYME

         Kalau mendengar kata mencuci sungai tentu kita akan merasa sedikit aneh ya, begitu juga denganku ketika pertama kali mendengarnya ...