Pernah melihat
seseorang yang rajin membeli atau meminjam buku? Tentu pernah ya. Pernahkah bertanya
padanya apakah semua buku buku tersebut dibacanya? Nah ketika kutanyakan hal
itu mulai muncul beberapa jawaban berbeda, ada yang mengatakan tidak semua,
hanya baca yg perlu aja, ada yg bilang baru baca setengah lalu beli lagi, baca
sedikit belum selesai baca lagi buku yg lain, ada yang bilang gak sempat tapi niat untuk
membacanya ada, kemudian adalagi yang bilang membeli buku saja sudah merupakan
kebahagiaan, bacanya belum tahu kapan, 😃😃. Aku sendiri mengalami hal
tersebut, Ada tumpukan buku dimejaku yang belum kubaca sama sekali dan ada tumpukan
buku yang sudah kubaca sebahagian. Ketika kutanyakan pada beberapa teman
terdekat hal yang sama, rata rata mereka juga melakukannya. Ternyata ada istilah yang digunakan untuk
perilaku tersebut yaitu Tsundoku.
Tsundoku
berasal dari istilah di Jepang,
ditemukan di media cetak pada tahun 1879 dan ada kemungkinan besar bahwa
istilah ini sudah digunakan lebih lama dari itu. Kata “doku” dapat digunakan
sebagai kata kerja yang berarti membaca. “tsun” dalam “tsundoku” berasal dari
kata “tsumu” yang berarti menumpuk. Jadi ketika disatukan “tsundoku” secara
harfiah berarti tumpukan bacan, atau kita artikan membeli bahan bacaan dan menumpuknya.
Ungkapan
tsundoku sensei muncul pada teks dari tahun 1879 dari penulis Mori Senzo, menurut
Profesor Andrew Gerstle (mengajar teks teks Jepang pra-modern di University of
London), ungkapan tersebut mulanya adalah untuk menyindir tentang seorang guru
yang memiliki banyak buku tetapi tidak membacanya, nampaknya memang tsundoku
digunakan sebagai penghinaan, namun menurut Profesor tersebut kata tersebut
tidak membawa stigma apapun di Jepang.
"Even when reading
is impossible, the presence of books acquired produces such an ecstasy that the
buying of more books than one can read is nothing less than the soul reaching
towards infinity." – A. Edward Newton, author, publisher, and collector of
10,000 books.
"Bahkan ketika membaca tidak
mungkin, keberadaan buku-buku yang diperoleh menghasilkan ekstasi sedemikian
rupa sehingga membeli lebih banyak buku daripada yang dapat dibaca tidak lain
adalah jiwa yang mencapai keabadian." - A. Edward Newton, penulis,
penerbit, dan kolektor 10.000 buku.
Kutipan diatas sering dipakai sebagai
sebuah argumen bagi para tsundoku,
Skala
tsundoku mulai dari hanya satu buku yang belum dibaca hingga penimbunan yang
serius, seperti yang dialami seorang yang bernama Frank Rose, yang mengalami
tsundoku parah, dia mempunyai 13.000 buku yang belum dibaca. Untunglah akhirnya beliau menyumbangkan
sebahagian besar buku buku tersebut ke perpustakaan setempat yaitu Arden –Dimick Library dan menurut catatan itu
adalah merupakan sumbangan buku terbesar dalam sejarah perpustakaan.
Sebenarnya
apa yang menyebabkan seseorang terlibat tsundoku ini? Ada beberapa sebab yakni:
A.
Tuntutan sosial
Punya akun IG
atau FB, tapi tidak pernah mengupload foto sedang beli buku, atau sedang
membaca dengan latar belakang rak yang berisi buku itu akan menurunkan
popularitas sebagai seorang cendekia atau sebagai orang tua yang perduli pada
literasi. Karena ternyata kehidupan social kita hari ini sudah berada di akun
akun social.
B.
Lapar Mata
Pokoknya
kalau sudah ke toko buku meski yang direncanakan beli hanya buku soal soal tapi
tetaaap saja kaki bergerak kearah novel,komik dll, sambil bilang nanti siap
ujian buku ini akan kubaca, giliran liburan datang, eh malah travelling kemana
mana.
C.
Membeli buku yang sebenarnya tidak dibutuhkan
Biasanya gara
gara ikut tren, ada yang mengatakan buku
ini bagus, lalu kitapun penasaran dan
langsung beli, meskipun sebenarnya tidak terlalu kepingin. Akibatnya buku hanya
dibaca sekilas lalu ditumpuk. Atau karena ada discount akhir tahun atau ulang
tahun toko buku, nah trolipun mulai beraksi dan penumpukan terjadi lagi.
D.
Isi buku tak sesuai harapan
Beli buku
tanpa baca review, beli buku tanpa baca contoh buku, biasanya ditoko buku yang
tidak menyediakan sampel, akhirnya harapan tak sesuai kenyataan, dan bukupun
ditumpuk lagi.
Adakah solusi untuk keluar dari tsundoku
ini? Tentu saja ada, terpulang kembali kepada niat , dan membuat suatu tujuan
dan motivasi bagi diri sendiri. Contoh solusinya :
1.
Menetapkan tujuan membeli buku sebelum
membelinya.
2.
Memastikan bahwa buku yang akan dibeli memang
dibutuhkan
3.
Biasakan membaca reviuw atau synopsis buku
4.
Tetapkan sebuah waktu khusus dalam 24 jam
kehidupan untuk membaca, misalnya 1 jam setelah sholat Subuh atau 1 jam sebelum
tidur.
5.
Mulailah menulis, karena menulis sangat
memerlukan bahan bacaan.
6.
Konsisten.
Jika itu semua tak cukup, mulailah
mengemas buku buku tersebut kedalam sebuah karton box, dan bagikan pada
perpustakaan atau taman bacaaan yang anda tahu, kalau anda tak tahu dimana
taman bacaan tersebut, hubungi diriku karena aku tahu banyak sekali taman
bacaan yang sangat membutuhkannya.
Jika ada buku yang belum dibuka dari
plastiknya atau bahkan yang sudah, menjual kembali juga menjadi sebuah pilihan,
hasil penjualan buku tersebut bisa untuk membeli buku lagi….
Selamat mencoba.🌹🌹
*https://www.bbc.com/news/world-44981013

sayang sekali beli buku gak dibaca
BalasHapusRupanya ada ya istilahnya untuk yg membeli buku tapi tidak sempat mbaca nya
BalasHapus