Rabu, 06 Maret 2019

SIPIROK NAULI HUTA HAHOLONGONKU


MENJELANG JALAN SEHAT NASIONAL (JSN) SIPIROK
OKTOBER/NOPEMBER 2019.




INTRO
Sipirok adalah salah satu kecamatan, sekaligus pusat pemerintahan Kabupaten Tapanuli SelatanSumatera UtaraIndonesia. Jarak kota Medan ke Sipirok sekitar 356 km, atau sekitar 8- 9 jam dengan transportasi darat ke arah selatan. Kecamatan ini merupakan tempat lahir beberapa tokoh nasional seperti Merari Siregar, seorang pengarang angkatan Balai PustakaLuat Siregarwali kota Medan dari 3 Oktober 1945 hingga 10 November 1945Lafran Pane Pendiri Organisasi Mahasiswa tebesar se Indonesia yakni Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI), Hariman Siregar tokoh besar Pergerakan Mahasiswa yang diingat sejarah dalam peristiwa "MALARI" dan juga Raja Inal Siregar (Salah satu pendiri SMA Plus Marsipature Hutanabe Tapanuli Selatan) sekaligus yang memprakarsai istilah "Marsipature huta be" yang berarti mari membangun kampung masing - masing. Istilah tersebut jelas ditujukan kepada putra putri asli Sipirok yang berada di perantauan agar selalu ingat dan selalu membantu saudara- saudarinya yang dianggap masih tertinggal (pendidikan) dibanding wilayah lain pada saat itu.
Ciri khas dari kecamatan ini adalah hawanya yang sejuk karena berada di lembah gunung Sibualbuali (Pegunungan Bukit Barisan), maka tidak heran banyak sumber air panas (aek milas/ pemandian yang mengandung belerang) yang terletak di beberapa lokasi. (Wikipedia).
_________________________________________________________________________________

Mendengar Kata Sipirok, bukan hanya mataku yang akan berbinar tapi bibirkupun akan otomatis tersenyum. Tentu saja karena Sipirok adalah kampung halamanku, tempat ayah dan bunda dilahirkan dan dibesarkan sebelum akhirnya merantau ke tanah Deli untuk melanjutkan pendidikan mereka.



Foto : sulfia blogger bec@k@k
Alun alun Sipirok
Foto : bec@k@k



Panggelong khas Sipirok dan daun sikkut sebagai pembungkusnya
Foto : bec@k@k
Ada banyak hal yang akan membuat mataku berbinar mengingatnya, mulai dari camilan khas yang bernama sambal taruma, panggelong, kue lapan lapan, Golang golang, alame/dodol, kue makkuk dan lomang (kapan kapan kita bahas mnai camilan ini).  Adapula makanan berat yang takkan mungkin bisa dilupakan, gule ihan sale (limbat,baung, mera,jurung ), sop sipirok yg sangat terkenal karena berasal dari  kerbau, baik sop daging maupun sop sumsum sampai kikil kaki kerbau,  Daging bakar sambal asam , ihan mas sinyarnyar, daun ubi tumbuk/silalat, sambal pati dan sambal tuk tuk, yang terakhir ini sangat nikmat dikonsumsi bersama rebusan berbagai macam sayur seperti daun ubi, kacang panjang,daun katu dan daun papaya. Gak coyo? Cobalah


foto sulfia, blogger bec@k@k
Alame atau dodol khas Sipirok
Foto: bec@k@k
Kue Lapan lapan
Foto : bec@k@k



Sop Kerbau Sipirok, daging panggang sambal asam, ihan sale, ikan mas goreng
foto : bec@k@k

Selain makanan yang langsung dimakan ada lagi hasil pertanian/perkebunan yang begitu terkenal dari sipirok yaitu kolang kaling, gula merah(bargot) yang sekarang sudah diproduksi berupa butiran dan lempengan, ada juga kopi, hmmm mengenai kopi ini, tahun 2014 pertama sekali diadakan festival kopi dan meminum kopi luwak terbanyak yang memecahkan rekor muri yaitu sebanyal 3.600 cangkir kopi. Masa kecilku dulu sekitar awal tahun 80an Sipirok juga menghasilkan cengkeh, aku sangat mengingat momen memetik cengkeh dengan membawa hadangan (semacam tas yang terbuat dari anyaman daun) dan menaiki tangga.



kopi Sipirok
foto : bec@k@k
kopi Sipirok Foto: bec@k@k



kopi Sipirok, foto : bec@k@k



kebun kopi di Sipirok
 foto : bec@k@k

biji kopi di pohon (sipirok)
foto : bec@k@k








Gula merah yang sudah berbentuk butiran
foto : bec@k@k





Hasil kerajinan dari sipirok? Nah kalau pernah memperhatikan resepsi pernikahan Bobby Nst dan Kahiyang (putri presiden Jokowi) maka aku yakin pasti mata kita akan terus mengikuti pakaian yang dipakai kedua pengantin, orang tua maupun panitia, mengapa? Karena sangat indah dengan manik manik yang tersusun rapi. Selain itu Sipirok juga menghasilkan ulos yang ditenun, ulos ini selalu dipakai untuk acara acara adat seperti pernikahan, masuk rumah, kelahiran, kematian dll. Di era sekarang ini ke khasan sipirok berupa ulos dan manik manik selain dibuat sebagai bahan/bakal baju juga dibuat sebagai tas,dompet, tempat tissue, gantungan kunci dll. Ada lagi yang bernama Tappa, sebenarnya ini adalah perlengkapan wajib seorang pengantin wanita yang akan dibawanya kerumah suaminya, namun saat ini juga sudah dibuat sebagai souvenir namun biasanya dalam ukurun yang lebih kecil dari aslinya.




Mengenai wisata alam, Sipirok tidak kalah, ada bukit/tor Simago mago dengan legenda nai marbittang (legenda ini hidup di imajinasiku selama aku SD karena menjadi dongeng yang dikembangkan oleh alm papa pada kami anak anaknya), Ada danau Marsabut yang menurut cerita alm papa airnya sangat panas bahkan kalau kita celupkan telur di airnya maka dalam waktu lima menit telur tersebut akan matang, sayang sampai saat ini aku belum pernah kesana. Mungkin karena akses ke Danau Marsabut belum bagus atau memang danau ini belum dilirik Pemda setempat untuk dikembangkan lebih jauh sehingga banyak yang tidak tahu. Nah ada juga pemandian air panas yang disebut Aek milas, ada tiga titik yang terkenal mempunyai pemandian aek milas yaitu desa Parandolok, desa Parau Sorat dan desa Hutabaru dengan nama aek milas sosopan. Nah kalau aek milas ini ketiga tiganya sudah pernah kunikmati… daan gratisss…





Hal yang membuat betah mandi diaek milas ini adalah bahwa airnya sama sekali tidak bau belerang, jadi kita tidak perlu repot repot membilas dengan air lagi setelah berendam di aek milas ini.

Urusan pendidikan, masyarakat Sipirok patut diacungin jempol, banyak putra daerah yang berangkat ke Kota Medan, Padang, Bukit Tinggi, Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota lain untuk melanjutkan pendidikan, dan bisa dibilang mayoritas yang berangkat berhasi dalam pendidikan maupun karirnya. Tercatat menteri Arifin M. Siregar (dari Desa Simaninggir), Bismar Siregar (dari Desa Baringin), H.M. Ritonga (dari Desa Paranjulu), Hasjrul M. Harahap (dari Desa Bunga Bondar), Lapran Pane (pendiri HMI dari Desa Pangurabaan), dan lain sebagainya. Di Sipirok sendiri saat ini ada banyak sekolah maupun pondok pesantren yang berdiri dari sejak lama, ada dua pondok pesantren yang terkenal yaitu sekarang namanya Pondok Pesantren Modren KHA. Dahlan di Baringin, yang berdiri pada tahun 1962 dan merupakan hasil Ijtihad Pesantren Pendidikan Ulama bahagian Pendidikan Muhammadiyah Tapanuli yang direkomendasikan pada Muktamar Muhammadiyah tahun 1961.  Kemudian ada lagi Pesantren Modren Darul Mursyid (PDM) yang berada di kecamatan Saipar Dolok Hole, desa Simanosor Julu berdiri pada tahun 1993 yang diinisiasi oleh alm H. Ihutan Ritonga. Pesantren ini telah menghasilkan banyak orang orang terdidik yang bahkan berasal dari berbagai penjuru Indonesia.





Perpustakaan Lafran Pane yang dibangun di desa Pangurabaan Sipirok
foto : bec@k@k

Rumah tempat Prof. Lafran Pane dibesarkan di desa Pangurabaan Sipirok
Foto : bec@k@k


Ada dua desa tempatku pulang setiap ke Sipirok yang pertama desa Baringin, yang merupakan kampung halaman alm Papa, desa yang memiliki sebuah pesantren modern, desa  tempat kedua ompungku (ayah dan ibu dari papa) dikebumikan. Sayangnya kami tidak punya rumah lagi disana karena ketika ompung godang ikut bergerilya melawan Belanda, Rumah kami disana dibakar Belanda dan sampai saat ini tidak pernah dibangun kembali. Satu satunya yang selalu kuingat dari kejadian itu adalah perkataan alm ompung menek (nenek) bahwasanya beliau sangat sedih karena perjuangan dan pengorbanan mereka untuk tanah air tidak pernah mendapat penghargaan dari pemerintah, aku tahu kesedihan ompung bukan karena ingin dihargai atau dibalas jasanya, tapi lebih karena marah justru orang orang yang dulunya tidak pernah berjuang, tidak pernah bergerilya meninggalkan keluarga malah mendapat penghargaan sebagai pejuang, begitulah hidup selalu saja ada yang mengambil manfaat dari keadaan. Dan ompung Menekku adalah tipe istri pejuang yang pantang meminta minta sehingga beliau hidup dari berdagang yang dilakoninya hingga anak anaknya bisa sekolah dan bekerja dengan layak.
Desa kedua yang selalu menjadi tempatku pulang kampung di Sipirok adalah desa Parsorminan, ini adalah kampung halaman mama, desa ini adalah tetangga desa Hutabaru tempat aek milas Sosopan berada. Didesa ini ada sumber mata air yang menjadi sumber air penduduknya yang disebut dengan aek Pangalinoan, berupa air mancur. Namanya diambil dari nama ompung Godang kami konon katanya air ini ditemukan oleh ompung ompung beberapa keturunan diatas, dan uniknya air ini akan melimpah keluar dari bak penampungannya manakala akan ada salah seorang turunan dari keluarga mama, biasanya anak laki laki pertama akan meninggal dunia. Bila air melimpah, biasanya warga akan bersiap siap untuk menerima khabar duka dari bagas godang (keluarga mama). Benar tidaknya akupun tak tahu karena belum pernah melihat airnya melimpah sampai keluar bak penampungan. Nama Parsorminan juga berarti tempat bercermin, mungkin ada hubungannya dengan air mancur tadi karena airnya sangat bening bisa dibuat untuk bercermin, cerita ini belum pernah lengkap kudengar hanya penggalan penggalan saja.


Ini adalah foto mesjid di Parsorminan sebelum direnovasi.
foto : bec@k@k

sebuah jalan desa di Sipirok
foto : bec@k@k

Saat ini bagas godang dimanfaatkan untuk tempat berkumpul masyarakat dan dibuat sebuah pengajian rutin dua kali seminggu dengan memanggil ustadz berceramah, dan setiap maghrib anak anak datang belajar mengaji membaca Al Qur’an disana. Setiap idul Adha bagas godang juga menjadi central pemotongan hewan Qurban, dan menjadi sebuah acara tahunan yang sangat ditunggu tunggu oleh Warga, karena akan ada acara masak bersama dan makan bersama juga membawa bagian dari Qurban untuk dibawa pulang berikut uang untuk membeli bumbunya.
Begitulah kampungku, Sipirok dengan keunikan dan ke-khas-annya, hmmm…. Ada satu kondisi yang juga unik disana, Warga Sipirok adalah warga yang terkenal sangat toleran, disana mayoritas penduduknya adalah Muslim, tapi juga ada Nasrani dan bisa dihitung Budha. Bahkan menurut cerita ompungku, dahulu ketika membangun rumah ibadah, semua masyarakat tidak perduli beragama apapun akan ikut bergotong royong. Sebuah pelajaran yang sangat penting untukku ketika itu… ompungku mengajarkanku akan perbedaan yang disikapi dengan kedamaian.




view dari belakang bagas godang di Parsorminan
foto: bec@kak

Bagas godang Parsorminan, sudah direnovasi
foto : bec@k@k

View dari samping bagas godang
foto : bec@k@k

Kolam ikan di belakang bagas godang
Foto : bec@k@k


Bicara tentang Sipirok ada lagi yang takkan mungkin terlupa yaitu bus Sibual Buali. Bus yang menjadi alat tranportasi masyarakat baik itu ke kota Medan, kota Padang/Bukit Tinggi maupun ke Pekan Baru ketika itu, bahkan sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Perusahaan bis ini dididrikan pada tgl 1 Januari 1937 oleh Sutan Pangurabaan Pane, hmmm mendengar namanya tentu anak anak HMI akan langsung teringat pada pendiri Lafran Pane. Benar, Sutan Pangurabaan Pane adalah ayah kandung Lafran pane, juga Sanusi Pane dan Armyn Pane. Cerita mengenai bis sibual buali ini sangat banyak, perlu judul tersendiri menceritakannya… sementara ini silahkan googling dulu yak.








Semoga tulisan ini bisa sedikit mengenalkan kampungku Sipirok yang akan menjadi tuan rumah Jalan Sehat Nasional KAHMI di bulan Oktober/Nopember 2019 yang akan datang. Jika ada peristiwa atau informasi yang salah ditulisan ini, mohon untuk dikoreksi. Ini hanya sekelumit yang kutahu dari kampungku, karena besarnya hati bahwa kampungku akan kedatangan tamu se Indonesia yang berasal dari organisasi yang telah membesarkanku HMI/KAHMI. Kalau ingin benar benar menikmati suasana Sipirok, saranku tinggallah dirumah rumah penduduknya, rasakan keramahan dan keunikan masyarakatnya. Biasanya alm ompungku kalau ada tamu yang datang dari jauh dan menginap dirumahnya, maka alamat ayam kampung yang dipeliharanya akan jadi santapan buat tamu tsb, aku tak tahu apakah budaya menerima tamu seperti itu masih ada sekarang? Ayo kita buktikan, siapa tahu kita beruntung?? 😉😉

2 komentar:

  1. Kampung ku juga tuh bou, rindu utk jalan jalan kesana... Horas....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ikut jalan sehat bulan Oktober/Nopember tahun ini , pulang kampung, mandi di aek milas habistu makan sambal taruma di lopo... Horas...

      Hapus

MENCUCI SUNGAI ALA RELAWAN ECO ENZYME

         Kalau mendengar kata mencuci sungai tentu kita akan merasa sedikit aneh ya, begitu juga denganku ketika pertama kali mendengarnya ...